Scroll to Top

Diskusi KAMMI, REI NTB Soroti Tata Ruang Kota Mataram

By saptoto / Published on Thursday, 22 Oct 2020 19:53 PM / No Comments / 30 views

Mataram – Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Pengurus Daerah Mataram menggelar diskusi bertema Tata Ruang Kota Mataram, kemarin (22/10). Diskusi ini menghadirkan pembicara Ketua DPD REI NTB, Heri Susanto. Heri sapaan akrabnya memberikan beberapa catatan khusus mengenai tata ruang Kota Mataram.

“Tata ruang ilmu paling primitif yang kita tahu. Seorang kepala daerah jika tidak memiliki kemampuan tata ruang saya yakin daerahnya tidak tertata bahkan kumuh,” bukanya.

Ia menjelaskan ilmu tentang tata ruang adalah ilmu yang sudah ada sejak zaman Babilonia. Kota Babilonia sudah tertata layaknya bagaimana Firaun di Mesir menata kotanya. Ia juga menjelaskan di Arab, tata ruang dikaitkan dengan keimanan. Sehingga semua jalan di sana tertata dengan rapi. Jika tidak tertata maka akan menjadi sebuah simbol rendahnya keimanan seseorang.
“Di Arab, tidak ada jalan yang jelek, karena itu menandakan imannya rendah,” kelekarnya.

Kaitan dengan Kota Mataram, jelang Pilkada ia berhatap masyarakat betul-betul memilih figur calon yang memiliki kemampuan tata ruang yang baik. Itu untuk mengatasi kesemrawutan pembangunan dan banyaknya kawasan kumuh di kota.

“Kita kaitkan dengan kepala daerah, latar belakang visi-misi mereka. Apakah kepala daerah memiliki visi yang jelas. Kehebatan pemerintah ketika mampu buat tata ruang yang bertahan lama,” ujarnya.
Heri juga mencontohkan Dubai. Bagaimana Dubai bisa menyerap banyak investor, karena Dubai memiliki tata ruang yang dapat bertahan hingga ratusan tahun ke depan. “Kenapa Dubai banyak investor, karena memiliki tata ruang sampai 150 tahun kemudian,” tuturnya.

Ingat, kota mataram kedepan akan menjadi kota internasional, hal ini berkaitan dg akan dilaksanaknnya kegiatan internasional motor GP

Data REI NTB, pada tahun 2017 atau 2018 pernah ramai dibahas LP2B atau Lahan Pangan Pertanian Berkelanjutan. Aturan tersebut diturunkan menjadi Perda untuk menyelamatkan lahan pertanian abadi.

“Niatnya mulia, jika ditempatkan di suatu wilayah sangat tepat karena jarang orang menghuni wilayah tersebut. Pelaksanaannya justru dipukul rata untuk semua daerah, akhirnya kota Mataram memiliki beban harus memiliki sawah di atas 1.000 hektare. Tapi justru sisa 800 artinya ada pelanggaran,” ungkapnya.
“Pertanyaannya apa iya di Mataram memiliki sawah. Segala sesuatu harus proporsional,” katanya. Harusnya ruang terbuka hijau, bukan sawah ..

Seperti diketahui tata ruang di Kota Mataram saat ini masih belum konsisten. Kawasan yang dijadikan lokasi perkantoran justru berdiri pertokoan.
Begitu juga kawasan pendidikan yang bercampur dengan kawasan ekonomi hingga perkantoran.
Begitu juga dengan masih banyaknya bangunan-bangunan yang berada dekat dengan bantaran sungai yang justru membuat kesan kumuh Mataram semakin terlihat.

Dalam closing statemennya Heri menegaskan, untuk Kepala Daerah Kota Mataram ke depan, tidak dibutuhkan orang yang hebat. Tetapi cukup orang yang peduli dan paham tentang tata ruang Kota.
“Yang bisa menata Kota dan punya visi misi jelas untuk jangka panjang. Untuk anak cucu kita,” tegasnya.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *