Scroll to Top

Kuliah Sambil Jual Salome, U’un Tidak Malu

By saptoto / Published on Minggu, 20 Okt 2019 08:46 AM / No Comments / 2884 views

MATARAM, NTB-Menjadi orang sukses bukanlah hal yang mudah untuk diraih. Karena persyaratan untuk menjadi orang sukses dibutuhkan usaha, kerja keras, dan sikap pantang menyerah. Bahkan terlahir dari keluarga yang mapan pun belum tentu menjamin seseorang menjadi orang sukses. Begitupun sebaliknya, meskipun terlahir dari keluarga miskin, tidak menutup kemungkinan akan menjadi orang yang sukses.

Di Indonesia sendiri kita pasti sudah kenal dengan sosok Bob Sadino. Salah satu tokoh yang menginspirasi masyarakat Indonesia. Dia sempat menjadi kuli hingga berdagang telur ayam. Namun, berkat ketekunannya, ia pun berhasil sukses mendirikan beberapa kerajaan bisnis yang masih bertahan hingga kini. Dan masih banyak orang sukses lainnya yang berawal dari orang biasa menjadi orang yang luar biasa.

Kali ini, kita akan mengulas tentang kisah seorang pemuda asal Bima yang berhasil menjadi pengusaha “SALOME” yang sukses di Mataram. Siapa dia? Yuk kita simak kisahnya.

Pemuda milenial yang bernama lengkap Uun Alfarakah 24 tahun asal Desa Dena Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima. Anak dari bapak Nasarudin  ABA (mantan anggota DPRD Kabupaten Bima) dengan ibu Sry Khansah (Almarhumah). Pemuda yang biasa disapa Uun itu merupakan mahasiswa Univeraitas Mataram (UNRAM) angkatan 2015-2019. Inspirasinya mulai mengalir sejak dia pertama kali masuk kuliah semester satu. Dengan tekadnya yang tinggi, ia mencoba merintis karir menjadi seorang pengusaha kuliner di Mataram. Walau usahanya masih terbilang sederhana, namun ia berhasil meraih keuntungan hingga puluhan juta rupiah perminggu. Skitar 3 sampai 5 juta per hari. Usaha ini terbilang laku, mungkin karena rasanya yang khas sehingga memiliki daya tarik tersendiri bagi konsumennya.

Masyarakat Bima menyebutnya “SALOME”. Jajanan langganan anak-anak hingga orang dewasa ini menjadi jajanan rebutan semua kalangan di Bima. Cara buatnya pun sangat mudah dan tidak jauh beda dengan pembuatan pentolan bakso (kuliner kahas masyarakat indonesia). Terdiri dari beberapa bahan campuran, yaitu daging sapi, terigu kanji, dan beberapa bahan tambahan lainnya dari rempah-rempah. Setelah semua bahan digiling lalu dibentuk bulat seperti pentolan bakso. Salain itu ada juga yang dibalutkan dengan tahu goreng lalu dimasak dalam air mendidih. Jadilah Salome jajanan kahas daerah Bima. Meski berbentuk bakso, namun cara penyajiannya yang berbeda. Praktis dan hanya ditusuk menggunakan lidi lalu ditaburi saos yang telah dibuat khusus.

Oleh Uun, mencoba jualan Salome sejak tahun 2015 lalu. Berawal dari itu hingga kini ia berhasil menjadikan Salome sebagai jajanan langganan masyarakat di Mataram Lombok NTB. Lebih khusus para mahasiswa dan mahasiswi yang sedang menempuh  pendidikannya di Mataram. Mereka seolah menjadi langganan setia Salome Uun.

Meski di Lombok sendiri yang jual Salome dengan sebutan “Cilok” cukup banyak. Tapi Salome yang dijual Uun memiliki cita rasa yang berbeda dengan Cilok. Walaupun bahannya sama dari daging sapi. Namun yang membedakannya adalah rasanya. Karena Salome sendiri memiliki resep rahasia sehingga menciptakan rasa yang berbeda dengan Cilok.

Dulu dia menjajaki usahanya hanya disaat waktu pulang kuliah saja. Mulai pukul 16.00 hingga 22.00 malam. Lokasinya pun cukup strategis, yaitu di depan Rumah Sakit UNRAM jalan Majapahit Mataram. Dengan peralatan rombong yang sederhana, tidak menjadi halangan untuk menarik para pembelinya.

“Sekarang saya sudah bangun dua Cabang, selain di depan Kampus UNRAM, di Gomong sudah mulai ada,” ujarnya saat dikonfirmasi media ini, Minggu (20/10).

Seiring berjalannya waktu, sekarang Uun sudah memiliki partner kerja. Yang tidak lain adalah adik kandungnya sendiri. Mereka pun bagi wilayah. Uun beroperasi di Gomong, sementara adiknya di depan Kampus Unram. Sampai kini, usahanya masih berdiri dan terus berkembang.

“Saya berharap, para generasi muda lainnya harus bisa merintis karir sendiri, karena dengan keterbatasan lapangan kerja kita mampu menciptakan dengan kemampuan kita sendiri,” tutupnya. (gufran)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *