Scroll to Top

80 Jalur Evakuasi Tsunami Sudah Terpasang

By saptoto / Published on Jumat, 12 Jul 2019 10:14 AM / No Comments / 9044 views
Salah satu jalur evakuasi yang dipasang BNPB dan BPBD NTB di Desa Kuta, Lombok Tengah

MATARAM, NTB–Mengurangi jatuhnya banyak korban akibat bencana alam, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama dengan Badan nasional Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, telah memasang sekitar 80 titik rambu-rambu jalur evakuasi jika terjadi tsunami.
Rambu ini dipasang di sepanjang pesisir pantai di wilayah kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Kawasan Tiga Gili (Gili Trawangan, Meno dan Gili Air) di KLU. Lombok Tengah, Lombok Barat, KSB, Dompu, Kabupaten Bima dan di Labuhan Haji Kabupaten Lombok Timur.
Rambu-rambu ini berupa rambu penunjuk arah atau titik kumpul. “Ada sekitar kurang lebih 80 titik yang sudah dipasang dan tersebar sejak empat tahun lalu di sepanjang pantai dari Ampenan, Tiga Gili hingga Labuhan Haji,” ujar Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD NTB Ahsanul Khalik.
Dikatakannya, jegunaan adanya rambu jalur evakuasi ini untuk memudahkan masyarakat mengungsi atau menentukan di mana titik kumpul manakala terjadi bencana atau hal hal yang tidak diinginkan.
“Nantinya, masyarakat akan diarahkan ke tempat lebih tinggi sebagai bagian dari upaya penyelamatan sementara,” jelasnya.
Khusus di KLU, yakni di kawasan Tiga Gili, titik kumpulnya ada di Pelabuhan Bangsal di Pemenang. Sementara, di wilayah lainnya difokuskan pada daerah ketinggian yang sudah ada rambu terpasangnya.
Dan saat ini kata Ahsanul Khalik di NTB sudah terbentuk sebanyak 36 desa Tangguh Bencana. Rinciannya, ada dua kelurahan di pesisir Kota Mataram. Yakni, Kelurahan Jempongbaru di Kecamatan Sekarbela dan Kelurahan Ampenan Selatan di Kecamatan Ampenan.
Di KLU adalah Desa Pemenang Barat, Gili Indah, Desa Pemenang dan Desa Bentek di Kecamatan Gangga. Selanjutnya, di Kabupaten Lombok Barat desa pesisir yang tangguh bencana adalah Desa Senteluk, Kecamatan Batulayar, Desa Lembar Selatan, Labuan Terang, Desa Guntur Macan, Kecamatan Gunungsari, Desa Lembuak dan Badrain di Kecamatan Narmada.
Untuk Lombok Timur, Desa Lenting di Kecamatan Sakra Timur, Desa Timbanuh di Kecamatan Pringgasela, Kelurahan Selong dan Desa Mekar Sari di Kecamatan Suela. Sementara di Kabupaten Lombok Tengah desa pesisirnya yang tangguh adalah desa Mertak, Kecamatan Pujut dan tiga desa lainnya.
“Khusus di Pulau Sumbawa, terdapat tiga desa di KSB, tiga desa di Kabupaten Bima, tiga kelurahan di Kota Bima, tiga kelurahan di Kabupaten Dompu dan satu desa di Kabupaten Sumbawa, yakni desa Pelat di Kecamatan Unter Iwes,” jelas Khalik.
Menurut dia, seluruh desa dan kelurahan yang tangguh bencana itu sudah diberikan sosialisasi dan pemahaman tentang bencana sejak tahun 2011 hingga tahun 2018 lalu.
Dimana, warga setempat juga dilatih dengan berbagai kegiatan untuk penanganan bencana. BPBD bekerjasama dengan BMKG juga telah memasang sirene jika nanti sewaktu-waktu terjadi tsunami. Sirene ini dipasang di beberapa titik yang dikendalikan dari Kantor BPBD. Dalam waktu dekat BMKG juga akan menyerahkan alat EWS (Early Warning System) yang sudah dipasang dibeberapa lokasi yang menjadi bagian dari peringatan bagi masyarakat sehingga ada pencegahan terhadap jatuhnya korbang yang lebih banyak.
Terkait mitigasi bencana kata Khalik, ke depan harusnya semua perencanaan pembangunan di NTB mempergunakan pendekatan perencanaan berbasis kebencanaan. Mulai dari struktur dan pemetaan bangunan yang ramah bencana, pemetaan struktur tanah dan hal-hal lain yang terkait langsung dengan kesiap siagaan dan kewaspadaan terhadap setiap kemungkinan bencana yang bisa terjadi kapan saja.
Mantan penjabat sementara Bupati Lombok Timur ini, mengatakan harus secara komprehensif mempraktekkan manajemen resiko bencana. Mulai dari pencegahan bencana dan juga mitigasi bencana. Karena dari 14 jenis bencana yang ada, di NTB ada potensi 11 jenis bencana yang bisa saja terjadi.
“Prinsipnya NTB yang mantab dan tangguh dalam misi mewujudkan NTB Gemilang harus faham betul jenis ancamannya dan bagaimana mengatasinya,” tegas mantan Kadis Sosial NTB ini.
Dan untuk menuju ke arah sana butuh sumber dana yang cukup dan sumber daya manusia yang handal.(uba)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *